Urutan
Pekerjaan Ibadah Haji
Assalamu ‘alaikum
wr wb
Saudaraku tamu
Allah, sudah tahukan rangkaian ibadah haji yang akan dilaksanakan. Sahnya
amalan haji membutuhkan pada ilmu. karena itu saya bagikan pengalaman saya dalam
pelaksanaan ibadah haji, semoga bisa membantu dan menambah pemahaman. Berikut ini
urutan rangkaian ibadah dalam haji dengan pelaksanaan haji tamattu’.
1.
Tanggal 8
Dzulhijah bada zhuhur semua hujjaj termasuk yang haid mandi besar untuk ihram di
pemondokan
2.
Mewangikan
badan
3.
Memakai
pakaian ihram di pemondokan
4.
Shalat
sunat ihram dua raka'at di pemondokan
5.
Naik bus
menuju Arafah
6.
Niat haji
7.
Mengucapkan
talbiyah sepanjang jalan ke Arafah
8.
Memasuki
kemah di Arafah dan menginap di Arafah
9.
Menjelang
zhuhur tanggal 9 Dzulhijjah mengambil
air wudhu dan kemudian mendengarkan khutbah wukuf
10.Melaksanakan
shalat zhuhur jamak takdim dengan ashar berjama'ah
11.Berdzikir,
takbir, tahmid, tahlil dan berdo'a sebanyak banyaknya.
12.Setelah
maghrib di Arafah kemudian naik bus menuju ke Muzdalifah
13.Shalat
maghrib dan isya di Muzdalifah (bila mungkin)
14.Memungut
kerikil sebanyak sekitar 49 sd 70 butir lebih dengan pesediaan
15.Mabit
(bermalam) di Muzdalifah
16.Setelah
pertengahan malam naik bus menuju Mina
17.Memasuki
kemah di Mina
18.Berangkat
ke Jamarat untuk melontar Jumratul Aqabah
19.Tahallul
awwal dengan menggunting rambut, bila memungkinkan boleh setelahnya berangkat
ke Mekkah untuk thawaf ifadhah dan sa’i yang berarti tahallul tsani
20.Mengganti
pakaian ihram dengan baju biasa
21.Kembali
ke kemah di Mina
22.Mabit
atau bemalam di Mina malam harinya
23.Besok
harinya ke Jamarat untuk melontar Jumratul Ula Wustha dan Aqabah
24.Kembali
ke kemah di Mina
25.Mabit
di Mina malam harinya
26.Besok
harinya melontar kembali ke Jamarat
27.Kembali
ke kemah
28.Setelah
zhuhur tanggal 12 Dzulhijjah boleh pulang kembali ke Makkah dan yang demikian
disebut nafar awwal.
29.Bila
tidak nafar awwal maka dilanjut mabit kembali di kemah Mina
30.Besok
harinya melontar Jumrah Ula Wustha dan Aqabah seperti hari-hari yang sudah.
31.Tanggal
13 Dzulhijah ba'da melontar Jumrah jema'ah haji pulang kembali ke Makkah, dan
yang demikian disebut nafar tsani.
32.Melaksanakan
thawaf ifadhah dan sa’i bila belum dilaksanakan sebelumnya
33.Selesailah
sudah pekerjaan ibadah haji dan apabila telah tiba waktunya kembali ke tanah
air atau pergi ke Madinah maka harus melaksanakan thawaf wada’ terlebih dahulu.
Untuk
memperjelas rangkaian tadi saya jelaskan lebih rinci tiap kewajiban yang dilakukan
sebagagai berikut:
1.
Ihram/
Niat Pada tanggal 8 Dzul Hijjah
· Menggunting kuku dan mencukur bulu
badan
Agar
terhindar dari malakukan pelanggaran setelah niat ihram dianjurkan menggunting
kuku terlebih dulu dengan rapi, dan juga mencukur bulu-bulu badan kecuali yang
biasa dibiarkan seperti jenggot bagi laki-laki
· Mandi sunat ihrom
Sebelum melaksanakan ihrom umroh dianjurkan mandi
terlebih dahulu. Ketentuan mandi di sini sama dengan ketentuan mandi wajib,
yakni harus disertai niat dan semua angota badan luar harus terbasuh dengan
air. Niatnya cukup dengan berkata dalam hati saya berniat mandi ihrom sunat
karena Allah, atau desertai Bahasa arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ
لِلْإِحْرَامِ لِلّهِ تَعَالَى
· Memakai wewangian (bagi laki-laki) di badan saja
Setelah mandi bagi laki-laki dianjurkan untuk memakai
wewangian di badan saja. Untuk perempuan tidak dianjurkan kecuali hanya sekedar
untuk menjaga agar tidak tercium bau badan, seperti menggunakan deodorant.
Adapun memakai wewangian setelah ihrom maka itu dilarang. Tidak dianjurkan
menggunakan wewangian pada pakaian ihram karena tatkala pakaian itu dilepas
lalu digunakan kembali maka akan terhitung menggunakan wewangian.
· Mengenakan pakaian ihrom
Pakaian
ihrom digunakan sebelum menetapkan niat ihrom, dianjurkan berwarna putih. Untuk
laki-laki perlu dipelajari cara mengenakan kain ihrom yang baik agar tidak
mudah lepas dan tidak mudah terbuka auratnya. Untuk perempuan perlu
diperhatikan larangan ihrom terutama dilarang bagi perempuan mengunakan sarung
tangan dan menutupi wajah. Kesalahan yang sering dilakukan perempuan yaitu
menggunakan ciput penutup kepala yang terlalu kebawah sehingga menutupi bagian
wajah, padahal menutupi wajah adalah larangan ihrom.
·
Shalat sunnat
ihrom
Setelah selesai mengenakan pakaian
ihram disunahkan untuk melaksanakan sholat sunat ihrom dua rakaat, pada rakaat
pertama dianjurkan membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca surat
Al-Ikhlash. Setelah sholat dianjurkan berdoa dengan khusuk meminta kepada Allah
agar diberi kemudahan dan petunjuk.
· Niat/ ihram haji
Niat haji dilaksanakan di Mekkah,
sebaiknya di hotel berbarengan agar tidak lupa. Kapan waktu niatnya?, niat
boleh dilakukan setelah shalat sunat ihram atau bila akan menaiki bus. Berikut
ini contoh bentuk niat haji:
نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ ِللهِ
تَعَالَى لَبَّيْكَ اللّٰهُمَّ حَجًّا
boleh dilanjutkan dengan pambahan
syarat:
فَإِنْ حَبَسَنِي
حَابِسٌ فَمَحَلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
Saya
berniat haji dan
melaksanakan ihram haji
karena Allah, atau aku
memenuhi panggilan-Mu ya Allah kepada umrah. Maka
jika ada halangan untuk menyempurnakan umrah ini maka tempat tahallulku adalah
sekira Engkau menghalangiku.
·
Memperbanyak
Tabiyah
Setelah niat/ ihrom dianjurkan
memperbanyak bacaan talbiyah. Berikut ini bacaan talbiyah
لَبَّيْكَ اَللّهُمَّ
لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, اِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ
لَكَ وَالْمُلْكَ, لاَشَرِيْكَ لَكَ
Artinya Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah Aku
memenuhi panggilan-Mu, Aku memenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagimu Aku
memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat milik-Mu juga
kerajaan, tiada sekutu bagimu
Talbiyah bisa dibaca masing-masing
atau secara bersama-sama, dibaca selama perjalanan menuju Arafah sampai selesai
melontar jumrah Aqabah tanggal 10 Dzul Hijjah. Untuk mendapatkan pahala yang
maksimal maka bacaan talbiyah ini dihayati maknanya dalam hati, Aku penuhi
panggilan-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat
dan kekuasaan hanyalah milik-Mu. Ditanamkan dalam hati bahwa pelaksaan umroh
ini semata mata karena memenuhi panggilan dan perintah Allah, bersyukur kepada
Allah disertai memuji-Nya karena diberi nikmat dan kemampuan untuk melaksanakn
umroh, dan menyakini bahwa ini semua adalah atas kekuasaan Allah bukan atas
kemampuan pribadi.
Setelah tiap tiga kali talbiyah
dianjurkan untuk membaca shalawat dan doa:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, اَللّٰهُمَّ اِنَّا
نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
Artinya: Ya Allah limpahkanlah
rahmat kepada kanjeng Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah kami meminta
kepada-Mu ridho-Mu dan surga, dan kami meminta perlindungan dari murka-Mu dan
neraka.
·
Menjauhi
larangan ihrom
Setelah niat/ ihrom maka melekat larangan-larangan ihrom. Ihrom sendiri
artinya adalah mengharamkan, sebagai mana dalam shalat kita mengenal takbirotul
ihrom, sebelum shalat bisa berbicara, banyak gerak dan lain-lain setelah takbir
menjadi terlarang. Behitu pula setelah ihrom umroh maka harus menjauhi semua
larangannya. Larangan ihrom ini meliputi:
Bagi pria saja:
1.
Memakai
pakaian yang dijahit atau disambung ujung ke ujung, seperti kaus, celana dan
sepatu yang menutupi mata kaki
2.
Menutup
kepala yang melekat seperti topi peci dan sorban.
Bagi wanita saja:
1.
Berkaus tangan
2.
Menutup
muka/ memakai cadar
Larangan ihram bagi pria dan wanita:
1.
Memakai
wangi-wangian dan minyak rambut
2.
Memotong
kuku, mencukur atau mencabut rambut dan
bulu badan atau menghilangkannya dengan cara apapun
3.
Jima
(bersetubuh), bercumbu, atau mengeluarkan
air mani dengan sengaja
4.
Nikah,
menikahkan atau meminang
5.
Menganiaya
atau membunuh binatang buruan darat yang halal (setelah tahallul tetap dilarang
jika berada di tanah Haram)
6.
Memotong
pepohonan atau mencabut rerumputan di tanah haram (baik sedang berihram ataupun
tidak)
Selain
sepuluh larangan tersebut orang yang berihram sangat dilarang untuk mengucapkan
kata-kata kotor (rafats), berbuat jahat dan bermaksiat (fusuq), bertengkar dan mencaci (jidal).
·
Naik bus menuju Arafah
Setelah niat dan talbiyah jamaah haji diarahkan untuk menaiki bus menuju
ke Arafah. Pemberangkatan menuju Arafah dimulai dari pagi hari sekitar pukul
09.00 sampai dengan sore hari. Pada keadaan tertentu pemberangkatan bisa
selesai lebih lama. Jarak antara kota Mekkah ke Arafah adalah sekitar 25 km,
dalam keadaan lancar bisa ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Bus
penjemputan disediakan oleh syarikah, sejenis badan usaha penyedia layanan haji
di Saudi Arabia. Kendaraan yang beroprasi sangat dibatasi, karenanya jamaah
haji dijemput dari hotel secara bergantian (taraddudi).
2. Wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzul
Hijjah
·
Memasuki
tenda Arafah pada tanggal 8 Dzul Hijjah dan menginap semalam
· Menjelang zhuhur tanggal 9 Dzulhijjah mengambil air wudhu dan kemudian mendengarkan
khutbah wukuf
· Melaksanakan shalat zhuhur jamak takdim dengan
ashar berjama'ah
· Berdzikir, takbir, tahmid, tahlil dan berdo'a
sebanyak banyaknya.
Wukuf adalah puncak
haji jadi perlu dioptimalkan dengan khusu’ dan memohon kepada Allah sepenuh
hati untuk kebaikan dunia dan akhirat. Doa-doa wukuf bisa dibaca pada buku
panduan doa yang diberikan pemerintah. Kewajiban pada wukuf ini adalah harus
berada di Arafah pada tanggal 9 Dzul Hijjah walaupun sebentar antara zhuhur
(zawal) sampai terbit matahari tanggal 10. Kebanyakan jamaah haji berdzikir
saat wukuf sampai menjelang sore hari. Disunahkan untuk berdoa di bawah sinar
matahari langsung walau hanya sebentar, bisa dilakukan tatkala sinar matahari
tidak terlalu terik menjelang sore hari.
· Naik bus menuju ke Muzdalifah
Pemberangkatan ke Muzdalifah dimulai setelah maghrib
dan jamaah haji secara bergiliran menaiki bus, petugas kloter berkoordinasi
dengan pihak syarikah terkait jadwal dan giliran pemberangkatan kloternya.
Jamaah harus sabar menunggu gilirannya, akhir pemberangkatan bisa lewat tengah
malam, tergantung keadaan jalur angkutan. Jarak antara Arafah dan Muzdalifah
adalah sekitar 7 km, jarak tempuh sekitar seperempat jam atau lebih karena
jalanan macet.
Sebagian jamaah dikondisikan untuk mengikuti skema
murur. Artinya mereka dari arafah diberangkatkan ke Mina melewati Muzdalifah
tanpa turun di Muzdalifah. Jamaah yang ikut skema murur ini adalah mereka yang
punya resiko tinggi berdasarkan pertimbangan petugas kesehatan.
3. Mabit di Muzdalifah malam 10 Dzul
Hijjah
·
Sampai
di Muzdalifah lalu mencari tempat untuk mabit, lebih baik dekat pintu keluar
menuju bus angkutan ke Mina
·
Shalat
magrib dan isya dengan dijamak, bila belum shalat di Arafah
·
Memungut
kerikil untuk melontar jumrah. Bila akan nafar awwal minimal 49 batu, jikan
akan nafar tsani minimal 70 batu. Tujuh batu untuk tanggal 10 Dzul Hijjah, dan
dua puluh satu untuk setiap tanggal 11 sd 12 atau 13 Dzul Hijjah.
Beberapa
tahun kebelakan batu sudah diberikan oleh syarikah di Arafah, kalua demikian
maka jamaah hanya perlu menjatuhkan batu di tanah lalu memungutnya lagi sesuai
jumlah yang diperlukan. Harus dipastikan bahwa yang diambil adalah batu bukan
yang lainnya
·
Kewajiban
dalam mabit di Muzdalifah adalah berada di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah
setelah lewat tengah malam walaupun sebentar.
·
Berangkat
naik bus menuju Mina setelah lepas tengah malam
Bus mulai
memberangkatkan jamaah dari Muzdalifah ke perkemahan Mina sekitar pukul 00.30
atau kurang. Jamaah harus bersabar menunggu giliran pemberangkatan yang
antreannya sangat panjang. Seringkali jamaah harus berdiri di pintu antrean
berjam-jam sampai dapat menaiki bus, diantaranya bahkan sampai pingsan. Kondisi
ini disebabkan jalanan yang padat dan kurang kesabaran sehingga berebut ingin
naik bus lebih awal padahal waktu kedatangan bus tidak bisa diprediksi.
Pemberangkatan terakhir sekitar subuh bahkan dalam kondisi tertentu bisa sampai
pagi, sedangkan fasilitas dan konsumsi di Muzdalifah sangat terbatas. Jarak
antara Muzdalifah ke perkemehan Mina sekitar
4 – 7 km tergantung area kemah yang dituju.
4. Melontar Jumrah Aqabah 10 Dzul Hijjah
·
Memasuki
tenda Mina
Jamaah Haji turun dari Bus lalu membawa barang
bawaannya memasuki tenda Mina sesuai pembagian yang telah ditetapkan oleh
syarikah dan petugas kloter
·
Berjalan
kaki menuju Jamarat untuk melontar jumrah Aqabah
Secara hukum fiqh pelontaran jumrah Aqabah
tanggal 10 Dzul Hijjah dapat dilakukan setelah lepas tengah malam. Pada
praktiknya tergantung pada kebijakan pemerintah Saudi, biasanya jamaah haji
Indonesia tidak diperkenankan keluar dari perkemahan dari mulai subuh sampai
zhuhur. Jadi waktu melontar ini tergantung kedatangan jamaah ke kemah Mina,
bisa sebelum subuh, atau setelah ashar. Jarak antara tenda Mina ke Jamarat
adalah sekitar 3-7 km, semua ditempuh dengan jalan kaki, atau kursi roda.
Jamarat itu ada tiga aula, wustha dan aqabah. Pada tanggal 10 ini hanya
melontar jumrah aqabah yang terletak paling ujung. Jamaah haji harus melontar 7
kali, setiap lontaran menggunakan satu batu. Sebelum melontar dianjurkan untuk
berdzikir:
بِسْمِ اللهِ اللهُ
أكْبَرُ رَجْمًا لِلشَّيَاطِينِ, وَرِضًا لِلرَّحْمٰنِ
Artinya: dengan
menyebut nama Allah, Allah maha besar, Laknat bagi setan dan keridhaan bagi Allah yang Maha Pengasih
5. Mencukur Rambut (Tahallul Awwal) 10
Dzul Hijjah
·
Tahallul
artinya menghalalkan kembali yang sebelumnya haram. Tahallul awwal adalah dengan
melakukan dua dari tiga amalan: 1) melontar jumrah Aqabah, 2) mencukur rambut,
3) thawaf berikut sa’i. setelah tahallul awwal maka larangan ihram kembali
halal selain jima, bercumbu, menikah’ menikahkan, membunuh hewan buruan dan
menebang/ mencabut tetumbuhan di tanah haram.
·
Menggunting
rambut ini dilalukan setelah selesai melontar jumrah Aqabah, bisa dilakukan di sekitar
jamarat, boleh digunting minimal tiga helai dulu kemudian disempurnakan pada
waktu longgar.
·
Setelah mencukur
rambut dianjurkan berdoa:
اللّٰهُمَّ آتنِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً وَامْحُ عَنِّي بِهَا
سَيِّئَةً وَارْفَعْ لِي بِهَا دَرَجَةً وَاغْفِرْ لِي وَلِلْمُحَلِّقِينَ
وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: Ya Allah berilah hamba dengan setiap
helai rambut satu kebaikan dan hapuslah dari hamba dengannya satu keburukan,
dan angkatlah bagi hamba dengannya satu derajat, dan ampunilah hamba dan
orang-orang yang bercukur dan semua orang muslim.
· Selesai melontar dan mencukur rambut jamaah bisa kembali
ke kemah Mina dan ganti pakaian. Bagi yang kuat diperbolehkan langsung ke
Mekkah untuk melanjutkan thawaf berikut sa’i.
6. Mabit di Mina malam 11 sd 12 atau 13
Dzul Hijjah
Mabit di Mina dilakukan dua malam atau tiga
malam pada malam hari tasyriq. Kewajibannya yaitu harus berada di Mina lebih
dari setengah malam (mu’zhamullail). Artinya jamaah harus berada di Mina dengan
durasi lebih dari separuh malam.
7. Melontar tiga Jamarat 11 sd 12 atau 13
Dzul Hijjah
· Jamaah haji harus berjalan kaki
kembali menuju jamarat dan melontar ketiga jamarat, masing-masing tujuh kali. Jadi
setidaknya jamaah membawa dua puluh satu batu. Jamarat dilontar secara berurutan
ula, wustha lalu aqabah. Pelontaran ini dilakukan dua hari atau tiga hari pada
hari-hari tasyriq.
· Waktu pelontaran dimulai sejak terbit
fajar (waktu subuh) sampai akhir hari tasyriq. Jamaah haji Indonesia pada hari-hari
tasyriq ini tidak dianjurkan untuk melontar pada saat zhuhur, biasanya sebelum
zhuhur kemah Mina akan ditutup bagi jamaah Indonesia, untuk menghindari
kepadatan. Hemat untuk menjaga untuk menjaga keselamatan jamaah berangkat dari
kemah sekitar pukul 03.30 lalu melontar setelah berkumandang adzan shubuh, atau
melontar di malam hari pada tanggal 11 dan melontar setelah subuh pada tanggal
12nya.
8. Nafar Awwal/ Nafar Tsani 12 atau 13
Dzul Hijjah
· Nafar awwal artinya keluar dari Mina
menuju Mekkah pada tanggal 12 Dzul Hijjah, sedangkan nafar tsani adalah keluar
dari Mina pada tanggal 13 Dzul Hijjah.
· Jamaah diperbolehkan memilih atara
nafar awwal atau nafar tsani. Kebanyakan memang memilih nafar awwal karena
mempertimbangkan kondisi fisik dan kenyamanan di Mina.
· Nafar awwal dilakukan setelah melontar
pada tanggal 12 Dzul Hijjah, namun jika pada waktu maghrib masih berada di Mina
maka pelontaran harus dilanjutkan sampai tanggal 13. Kebanyakan ulama
mengharuskan nafar awwal setelah zawal/ zhuhur, tapi ada sebagian ulama seperti
Imam Thawus memperbolehkannya sebelum zawal.
9. Thawaf Ifadhah
· Thawaf
disyaratkan suci dari hadats (punya wudhu) dan najis, dan harus menutup aurat
· Memulai dari Aswad dan dilakukan sebanyak 7 putaran,
setiap kali sejajar dengan hajar aswad dan rukun yamani disunahkan untuk
berisyarat dengan tangan kanan dengan melambaikannya kepada hajar aswad dan
rukun yamani. Setelah isyarat kepada hajar aswad dianjurkan mengecup telapak
tangan.
· Selama thowaf
dianjurkan banyak berdoa, boleh membaca doa apa saja dengan bahasa apa saja,
boleh juga membaca ayat-ayat Al Quran, atau membaca dzikir
Al-Baqiyatussholihat, yaitu:
سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ
بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Di antara rukun yamani dan hajar aswad
dianjurkan membaca doa berikut:
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
الْأٓخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ
الْأَبْرَارِ, يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Artinya: Ya Tuhan kami berilah kami di dunia
kebaikan, dan di akhirat kebaikan, dan lindungi kami dari siksa neraka, dan
masukanlah kami ke surga Bersama orang-orang baik wahai Dzat yang maha kuasa
maha mengampuni wahai Tuhan semesta alam.
Berikut ini di antara doa pilihan dalam
thawaf:
اَللّٰهُمَّ
اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًامَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا
وَعَمَلًا صَالِحًا مَقْبُوْلًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ. يَا عَالِمَ مَا فِى
الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنِيْ يَا اللهُ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ
Artinya: “Ya
Allah, jadikanlah hajiku ini haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang
diampuni dan amal shaleh yang dikabulkan dan perdagangan yang tidak akan
mengalami rugi selamanya. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang
terkandung dalam dada. Keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang
benderang.
· Melakukan sholat sunnat thowaf di belakang Maqom
Ibrohim dilanjutkan berdoa sambil menatap Multazam
· Minum Air Zamzam, sambil menatap Ka’bah, berdo’a dulu lalu diminum tiga tegukan
10. Sai (Tahallul Tsani)
· Dimulai dari Shofa, sebanyak 7 kali, dan berakhir di
marwah
· Selama perjalanan dianjurkan membaca doa, saat
menanjak membaca takbir, dijalan yang datar membaca tasbih atau al
baqiyatussholihat, dan dianjurkan membaca ayat berikut:
اِنَّ الصَّفَا
وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلَا
جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَاِنَّ اللهَ
شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Artinya:
Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. Maka
barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya
mengerjakan sa‘i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati
mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.
· Pada area yang berlampu hijau laki-laki disunatkan
berlari-lari kecil sambil berdoa:
رَبِّ اغْفِرْ
وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ اِنَّكَ تَعْلَمُ مَا
لَا نَعْلَمُ اِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
Artinya: Ya
Tuhanku berilah ampunan, rahmat, maaf,
dan kemurahan, dan ampunilah dosa yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau
mengetahui apa yang hamba tidak ketahui, sesungguhnya Engkau Allah yang paling
berkuasa dan mulia.
· Melaksanakan thawaf berikut sa’i berarti
telah menunaikan tahallul tsani maka semua keharaman ihram menjadi halal
kembali kecuali larangan yang melekat di tanah haram yakni membunuh hewan
buruan dan menebang/ mencabut tetumbuhan tanah haram.
· Kewajiban yang belum dikerjakan
tinggal satu yaitu thawaf wada’, thawaf wada’ ini dilaksanakan tatkata akan
meninggalkan kota Mekkah.
Sekian
pembahasan manasik pada postingan kali ini, semoga saudaraku para hujjaj diberi
kemudahan dan taufiq untuk melaksanakan ibadah dengan benar dan baik, semoga
Allah jadikan ibadah haji yang mabrur, amin. Terima kasih telah berkunjung dan
membaca.
Wassalamu
‘alaikum wr wb.

No comments:
Post a Comment